Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku mati karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, saya sahih-sahih sendirian. Rasa takut & kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan merupakan, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini saya hanya mengenal ayah dan bunda saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat senang .
Aku tidak jangan lupa, bagaimana aku sanggup sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yg baru saja menimpaku. Tidak lamapun, saya merasa bila aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.
Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan sang Bunda Risa, salah satu pengurus pada tempat kami.
“Ayo bangun, cepat mandi, pakai sandang terbaik kalian, selesainya itu kalian wajib berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sembari tersenyum hangat.
Dan saya pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”
“Mungkin ya..”, istilah Bunda Risa sambil tertawa mini .
“Lantaran beliau adalah putra tunggal berdasarkan pemilik yayasan ini..”
Tak kusangka, pertemuanku menggunakan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yg lain, dia datang-tiba berhenti sempurna di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku menggunakan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.
“Ada apa Torian? Apa kau kenal menggunakan anak ini?”, tanyanya.
“Tidak”, Erik masih memandangiku sembari memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
“Sempurna” katanya dingin.
“Seperti boneka..”
Aku konfiden sekali beliau bergumam [“..Boneka yang aku idam-idamkan”]
Lalu beliau melepaskan wajahku dan eksklusif meninggalkanku begitu saja.
Sehari setelah kunjungan itu, Erik beserta temannya itu balik mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
“Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang tidak sama dari kemarin.
“Mulai saat ini, aku -lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak wajib memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja saya Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yg membalasku dengan senyuman hangat.
Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian pada tempat tinggal megah misalnya ini & masih berusia 24 tahun waktu itu. Diam-membisu, aku kagum menggunakan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada pada tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain buat dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku . Tapi, beliau pula bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan buat keluar tempat tinggal selain ke sekolah tanpa dirinya.
Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, saya mulai merasa bosan di rumah & Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya buat pergi sambil bermain Play Station pada kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar bunyi pintu di sebelah kamarku berbunyi.
“Erik sudah pergi!!”, pikirku senang .
Aku pun berlari keluar kamar buat menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan saya mampu tahu apa yg terjadi pada pada sana. Erik beserta seseorang perempuan yg sangat anggun, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya sanggup terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba & meremas payudara perempuan itu.
“Ohh..Erik”
Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok perempuan itu & menari-nari pada sekitar pinggul dan pahanya. Tak usang, Erik telah habis melucuti sandang wanita itu. Erik merebahkan perempuan itu ke loka tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh perempuan itu, menciuminya menggunakan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara perempuan itu sambil meremas-remasnya.
“Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan perempuan itu.
Aku melihatnya. Aku nir percaya bahwa saya menyaksikan itu seluruh. Tapi, saya tidak berkiprah sedikit pun. Aku tidak bisa.
Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang menggunakan tangan Erik & Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yg sudah basah itu menggunakan sangat kasar. Wanita itu mengerang menggunakan keras. Tanpa sadar, pipiku telah dibasahi sang air mata. Hatiku terasa sakit & ngilu. Tapi, saya permanen tidak mampu berkecimpung berdasarkan sana. Aku permanen melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sembari berlinang air mata.
Erik masih melanjutkan permainannya bersama perempuan manis itu, beliau menggerakkan pinggulnya maju dan mundur menggunakan sangat cepat. Teriakan kepuasan berdasarkan wanita itu pun membahana di semua ruangan. Sepuluh mnt selesainya itu, Erik terlihat kejang sesaat sembari mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan perempuan itu. Permainan berakhir.
Tapi saya masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau berkecimpung pula, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan sang Erik. Benar saja, saya melihat Erik berbenah memberesi bajunya & beranjak menuju pintu. Dia membuka pintu & melihat diriku mematung sambil menangis pada sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.
Dia pun membungkukkan tubuhnya,
“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku telah mempersiapkan sanksi yg tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani engkau sampai engkau tertidur. Kalau engkau capek, besok bolos saja.”
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
“Aku..Saya..Sayang Erik”
“Erik adalah milikku..Hanya milikku seseorang”
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama , aku pun tertidur lelap.
Hari ini adalah ulang tahunku yg ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku pada sebuah hotel bintang lima. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial . Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat manis menggunakan baju itu, “Kamu cocok sekali menggunakan rona putih, sangat matching menggunakan rona kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. Engkau semakin cantik.”
Teman-sahabat perempuanku jua berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
“Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali engkau punya ayah angkat seperti Erik..”
Kata Sara, sahabat baikku sembari tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok beserta Tomi.
“Hey Maria, Erik itu tampan banget ya? Temennya jua..” ujar Sara sambil tertawa kecil.
Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi acapkali menyampaikan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak usang, Aryo temanku yg sepertinya suka denganku datang, sembari menyerahkan bantuan gratis, beliau mencium ke 2 pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.
Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat pada kamar hotel. Aku tidak mengecewakan capek, akan tetapi aku senang . Dan setiba di kamar, saya memeluk Erik sembari mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih Erik..Aku sayang sekali sama Erik..”
Erik pun membalas pelukanku sejenak & kemudian melepasnya, & dia memegang ke 2 lenganku sembari memandangku dengan berfokus. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
“..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..Melakukan kesalahan apa?”
Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke loka tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya buat mengikat ke 2 tanganku menggunakan kencang. Aku memekik & mulai menangis.
“Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”
Dia melihatku menggunakan pandangan murka . Kemudian berteriak,
“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih mini telah kenal laki-laki !! Sudah kuputuskan! Kamu wajib di aturan atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu dua tahun yg kemudian!!”
Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat insiden itu.
“Erik murka ..”, pikirku.
Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yg kusayangi.
Tiba-tiba, Erik menarik gaunku menggunakan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
“Ini akibatnya bila jadi perempuan genit!!”
Erik menariknya lagi buat ke 2 kalinya, sandang dalamku semakin terlihat. Celana dalamku pula akan dilepasnya.
“Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.
Terlambat, saya sudah telanjang total. Hanya sisa-residu gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku menggunakan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh menggunakan kemarahan & ereksi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
“Aku wajib menjadi orang pertama yg..”
Erik nir menyelesaikan kata-pungkasnya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
“Hmmphh..”
Untuk pertama kalinya aku merasakan terdapat getaran yg aneh dalam tubuhku. Sensasi yg nir pernah kurasakan sebelumnya.
Erik terus berlanjut menciumku, aku mampu merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yg belum tumbuh seutuhnya.
“Ahh..”
Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
“Panas..Badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.
Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya pada payudaraku makin bertenaga.
“Ahh..!!” nafasku makin memburu.
Tib-tiba Erik berhenti & melihatku sambil tersenyum misterius.
“Hmm..Engkau menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu buat memandang wajahnya.
“Aku rasa, engkau telah siap buat permainan selanjutnya..”
Erik tertawa mini , sedikit kemarahan masih tersisa dalam dirinya. Erik pulang menciumiku, kali ini beliau meremas payudaraku sambil menghisapnya.
“Hhh..!!”
“Tidak apa-apa..Kalau Erik..Tidak apa-apa.” pikirku.
Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.
“Emm..” saya tidak berani bilang jika aku merasa sakit.
Erik mulai tidak tabah, dan beliau memasukkannya menggunakan kasar.
“Aaahh..!!”
Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya telah memasuki diriku seutuhnya & sakit yg kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan pada dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat menggunakan sedikit paksa. Bosan menggunakan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku sebagai telungkup.
“Erriik..!! Tidaak!!” saya sangat membuat malu melakukan posisi itu.
Tetapi Erik nir peduli dan melanjutkan pulang permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, & tiba-tiba saya merasakan getaran yg sangat hebat pada diriku, saya merasakan ‘liang’ku
menyempit lantaran otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras menurut sebelumnya.
“Ohh..Maria.”
Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku menggunakan kuat. Tubuh Erik mengejang, & cairan deras pun mengalir berdasarkan ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku & mulai menciumi punggungku.
“Hhhmm.. Pilihanku memang selalu sempurna”, gumamnya.
Aku menentukan untuk membisu. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
“Maria, kamu merupakan milikku seorang.. Nir ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”
Erik memeluk tubuhku yg mini dengan erat.
“Ya Erik..Aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yg kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.
“Anak udik.. Aku nir akan pernah membencimu Maria..”
Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.
“Terima kasih..Erik.”

Aku tidak jangan lupa, bagaimana aku sanggup sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yg baru saja menimpaku. Tidak lamapun, saya merasa bila aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.
Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan sang Bunda Risa, salah satu pengurus pada tempat kami.
“Ayo bangun, cepat mandi, pakai sandang terbaik kalian, selesainya itu kalian wajib berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sembari tersenyum hangat.
Dan saya pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”
“Mungkin ya..”, istilah Bunda Risa sambil tertawa mini .
“Lantaran beliau adalah putra tunggal berdasarkan pemilik yayasan ini..”
Tak kusangka, pertemuanku menggunakan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yg lain, dia datang-tiba berhenti sempurna di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku menggunakan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.
“Ada apa Torian? Apa kau kenal menggunakan anak ini?”, tanyanya.
“Tidak”, Erik masih memandangiku sembari memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
“Sempurna” katanya dingin.
“Seperti boneka..”
Aku konfiden sekali beliau bergumam [“..Boneka yang aku idam-idamkan”]
Lalu beliau melepaskan wajahku dan eksklusif meninggalkanku begitu saja.
Sehari setelah kunjungan itu, Erik beserta temannya itu balik mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
“Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang tidak sama dari kemarin.
“Mulai saat ini, aku -lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak wajib memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja saya Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yg membalasku dengan senyuman hangat.
Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian pada tempat tinggal megah misalnya ini & masih berusia 24 tahun waktu itu. Diam-membisu, aku kagum menggunakan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada pada tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain buat dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku . Tapi, beliau pula bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan buat keluar tempat tinggal selain ke sekolah tanpa dirinya.
Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, saya mulai merasa bosan di rumah & Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya buat pergi sambil bermain Play Station pada kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar bunyi pintu di sebelah kamarku berbunyi.
“Erik sudah pergi!!”, pikirku senang .
Aku pun berlari keluar kamar buat menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan saya mampu tahu apa yg terjadi pada pada sana. Erik beserta seseorang perempuan yg sangat anggun, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya sanggup terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba & meremas payudara perempuan itu.
“Ohh..Erik”
Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok perempuan itu & menari-nari pada sekitar pinggul dan pahanya. Tak usang, Erik telah habis melucuti sandang wanita itu. Erik merebahkan perempuan itu ke loka tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh perempuan itu, menciuminya menggunakan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara perempuan itu sambil meremas-remasnya.
“Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan perempuan itu.
Aku melihatnya. Aku nir percaya bahwa saya menyaksikan itu seluruh. Tapi, saya tidak berkiprah sedikit pun. Aku tidak bisa.
Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang menggunakan tangan Erik & Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yg sudah basah itu menggunakan sangat kasar. Wanita itu mengerang menggunakan keras. Tanpa sadar, pipiku telah dibasahi sang air mata. Hatiku terasa sakit & ngilu. Tapi, saya permanen tidak mampu berkecimpung berdasarkan sana. Aku permanen melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sembari berlinang air mata.

Erik masih melanjutkan permainannya bersama perempuan manis itu, beliau menggerakkan pinggulnya maju dan mundur menggunakan sangat cepat. Teriakan kepuasan berdasarkan wanita itu pun membahana di semua ruangan. Sepuluh mnt selesainya itu, Erik terlihat kejang sesaat sembari mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan perempuan itu. Permainan berakhir.
Tapi saya masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau berkecimpung pula, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan sang Erik. Benar saja, saya melihat Erik berbenah memberesi bajunya & beranjak menuju pintu. Dia membuka pintu & melihat diriku mematung sambil menangis pada sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.
Dia pun membungkukkan tubuhnya,
“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku telah mempersiapkan sanksi yg tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani engkau sampai engkau tertidur. Kalau engkau capek, besok bolos saja.”
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
“Aku..Saya..Sayang Erik”
“Erik adalah milikku..Hanya milikku seseorang”
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama , aku pun tertidur lelap.
Hari ini adalah ulang tahunku yg ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku pada sebuah hotel bintang lima. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial . Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat manis menggunakan baju itu, “Kamu cocok sekali menggunakan rona putih, sangat matching menggunakan rona kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. Engkau semakin cantik.”
Teman-sahabat perempuanku jua berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
“Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali engkau punya ayah angkat seperti Erik..”
Kata Sara, sahabat baikku sembari tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok beserta Tomi.
“Hey Maria, Erik itu tampan banget ya? Temennya jua..” ujar Sara sambil tertawa kecil.
Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi acapkali menyampaikan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak usang, Aryo temanku yg sepertinya suka denganku datang, sembari menyerahkan bantuan gratis, beliau mencium ke 2 pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.
Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat pada kamar hotel. Aku tidak mengecewakan capek, akan tetapi aku senang . Dan setiba di kamar, saya memeluk Erik sembari mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih Erik..Aku sayang sekali sama Erik..”
Erik pun membalas pelukanku sejenak & kemudian melepasnya, & dia memegang ke 2 lenganku sembari memandangku dengan berfokus. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
“..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..Melakukan kesalahan apa?”
Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke loka tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya buat mengikat ke 2 tanganku menggunakan kencang. Aku memekik & mulai menangis.
“Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”
Dia melihatku menggunakan pandangan murka . Kemudian berteriak,
“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih mini telah kenal laki-laki !! Sudah kuputuskan! Kamu wajib di aturan atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu dua tahun yg kemudian!!”
Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat insiden itu.
“Erik murka ..”, pikirku.
Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yg kusayangi.
Tiba-tiba, Erik menarik gaunku menggunakan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
“Ini akibatnya bila jadi perempuan genit!!”
Erik menariknya lagi buat ke 2 kalinya, sandang dalamku semakin terlihat. Celana dalamku pula akan dilepasnya.
“Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.
Terlambat, saya sudah telanjang total. Hanya sisa-residu gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku menggunakan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh menggunakan kemarahan & ereksi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
“Aku wajib menjadi orang pertama yg..”
Erik nir menyelesaikan kata-pungkasnya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
“Hmmphh..”
Untuk pertama kalinya aku merasakan terdapat getaran yg aneh dalam tubuhku. Sensasi yg nir pernah kurasakan sebelumnya.
Erik terus berlanjut menciumku, aku mampu merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yg belum tumbuh seutuhnya.
“Ahh..”
Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
“Panas..Badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.
Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya pada payudaraku makin bertenaga.
“Ahh..!!” nafasku makin memburu.
Tib-tiba Erik berhenti & melihatku sambil tersenyum misterius.
“Hmm..Engkau menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu buat memandang wajahnya.
“Aku rasa, engkau telah siap buat permainan selanjutnya..”
Erik tertawa mini , sedikit kemarahan masih tersisa dalam dirinya. Erik pulang menciumiku, kali ini beliau meremas payudaraku sambil menghisapnya.
“Hhh..!!”
“Tidak apa-apa..Kalau Erik..Tidak apa-apa.” pikirku.
Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.
“Emm..” saya tidak berani bilang jika aku merasa sakit.
Erik mulai tidak tabah, dan beliau memasukkannya menggunakan kasar.
“Aaahh..!!”
Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya telah memasuki diriku seutuhnya & sakit yg kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan pada dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat menggunakan sedikit paksa. Bosan menggunakan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku sebagai telungkup.
“Erriik..!! Tidaak!!” saya sangat membuat malu melakukan posisi itu.
Tetapi Erik nir peduli dan melanjutkan pulang permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, & tiba-tiba saya merasakan getaran yg sangat hebat pada diriku, saya merasakan ‘liang’ku
menyempit lantaran otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras menurut sebelumnya.
“Ohh..Maria.”
Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku menggunakan kuat. Tubuh Erik mengejang, & cairan deras pun mengalir berdasarkan ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku & mulai menciumi punggungku.
“Hhhmm.. Pilihanku memang selalu sempurna”, gumamnya.
Aku menentukan untuk membisu. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
“Maria, kamu merupakan milikku seorang.. Nir ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”
Erik memeluk tubuhku yg mini dengan erat.
“Ya Erik..Aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yg kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.
“Anak udik.. Aku nir akan pernah membencimu Maria..”
Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.
“Terima kasih..Erik.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar