Full width home SAKONGKIU

Post Page SAKONGKIU [Top]

Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi seringkali melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta pada Kamar Evi & kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya saat masih Sekolah Menengah Atas. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya buat minum-minum saat perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika beliau mulai mabuk beliau dibawa pacarnya dan pada perkosa di hotel. Tragisnya beliau diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya waktu itu.
https://goo.gl/eNkQDB

https://goo.gl/eNkQDBPaginya sehabis sadar dia pada antar pergi & pacar maupun ke 2 temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya beliau tetapkan buat kuliah pada Bali jurusan hotel & tourisme. Sejak kuliah pada Bali pun beliau sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa sahabat kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma menjadi teman, nir lebih, interaksi kami menurut suka  sama senang. Mungkin karena usia ku yang lebih belia. Hanya saja saya dapat previlege buat tubuhnya kapan saja aku  mau. Hubunganku menggunakan Evi pun nir diketahui oleh Silvi kakaknya yg sudah bekerja pada galat satu hotel di kawasan Jimbaran.
Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi. Keduanya mempunyai kulit yg putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi jua manis aku  sering bercanda dengan Evi mengungkapkan ingin tahu cita rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang tertawa & kadang marah kalo saya berkata begitu. Walau murka , Evi akan hilang kemarahannya jikalau kucumu lagi.
Seperti halnya sore itu, Ketika saya baru pergi kuliah, kulihat kamar Evi terbuka namun tidak terdapat orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yg sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku  menginap pada Denpasar karena sedang ujian akhir.
Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yg ada dikamar mandi.
“Vi, lagi mandi yah? Tanyaku basa-basi.
Tidak terdapat jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.
“Kamu murka  yah Vi?, Maaf yah saya gak kasih memahami kamu kalo aku  mau nginep pada Denpasar. Hari ini aku  mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium engkau , bikin kamu puas hari ini. Aku aka.
“Mandi kucing kan engkau  Vi mulai menurut ujung rambut hingga ujung kaki.” Rayuku.
Masih tidak terdapat jawaban dari dalam kamar mandi.
“Vi, ingat film yg dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu hingga kau menggelinjang puas & memohon supaya aku  memasukkan penisku”. Terdengar suara batuk mini   berdasarkan dalam kamar mandi.
“Vi, kututup pintu & gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden ventilasi yang memang masih terbuka.
Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak pada hati. Setelah aku  menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan memakai bathrope berwarna pink & duduk diatas loka tidur dengan kaki bersilang dan terlihat berdasarkan belahan bathropenya.
Kaki yang putih terawat, betisnya yg latif terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang & seksi sangat menantang sekali buat dielus. Belum lagi silangan bathrope pada dadanya relatif kebawah sebagai akibatnya terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar  menurut Evi, karena aku  belum pernah menyentuhnya. “Evi sedang ke Yogya, beliau sedang Praktek kerja selama dua bulan” Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.
“Jadi selama ini engkau  senang make love ya sama Evi, padahal aku  percaya kamu nir akan begitu sama adikku”
“Maaf Mbak, saya gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi” Kataku sembari mataku memandang wajah Silvi.
Rambutnya yg hitam sepundak tergerai basah. Dada yg putih menggunakan belahan yg terlihat relatif pada. Paha yg putih mulus & kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 sampai 8,5.
“Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, untuk Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang engkau  bilang tadi?” Tanya Silvi memancingku.
“Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih” Jawabku eksklusif tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur. Sebab sebagai pria normal saya sudah nir kuat menunda nafsuku melihat sesosok wanita manis yg hampir niscaya telanjang lantaran baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yg sangat menarik hati.
https://goo.gl/eNkQDB
“Kamu telah usang make love dengan Evi, Ren?” Tanya Silvi ketika aku  duduk pada sebelah kirinya. Aku tidak pribadi menjawab, setelah duduk pada sebelahnya aku  mencium wangi harum tubuhnya.
“Tubuh Mbak harum sekali”, kataku sambil mencium lehernya yang putih & jenjang.
Silvi menggeliat & mendesah saat lehernya kucium, mulutku pun naik & mencium bibirnya yang kecil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan pengecap kami pun saling bersentuhan, hal itu menciptakan Silvi semakin hangat.
https://goo.gl/eNkQDB
Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap & kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras & putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sembari terus melumat bibirnya.
Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di loka tidur sambil terus melumat bibirnya & meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sementara waktu buat melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sementara waktu lagi, lantaran aku  belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yg indah dan tanpa cela sedikit pun. Payudaranya yang putih & tegak menantang ukuran 36 C menggunakan puting yg sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang yg langsing karena perutnya yg kecil. Bulu halus yg tumbuh pada sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat latif.
“Hh” Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun pribadi melanjutkan kegiatanku yg tadi terhenti lantaran mengagumi estetika tubuhnya.
Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya & perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya & menciumi payudaranya menggunakan leluasanya. Payudaranya yg kenyal pun mengeras saat aku  mencium sekeliling payudaranya. Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku  membelai sekeliling vaginanya dahulu buat memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi sampai akhirnya perlahan tanganku pun ditarik sang Silvi & diarahkan ke vaginanya.
“Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa lezat   Ren” Ucapnya sambil mendesah.
Bibir vagina Silvi sudah basah saat kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yg masih berada di payudaranya. “Ahh, terus Ren”, Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan menggunakan rabaan tanganku yg makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yg semakn basah.
“Ohh Ren lezat   sekali Ren”, desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.
Jariku pun semakin leluasa bermain pada lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan ke 2 jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang. “Ahh Ren”, Silvi pun merapatkan kedua kakinya sebagai akibatnya tanganku terjepit pada pada lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah. Remasan tangan Silvi pada kepalaku semakin kencang, Silvi misalnya sedang menikmati puncak  kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama   Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan & kakinya pun mengendur.
Kesempatan ini eksklusif kupergunakan secepat mungkin buat melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali & terasa tidak nyaman karena masih stress sang celana jeansku. Setelah aku  tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula semua badan Silvi ada di atas loka tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang terdapat di atas loka tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.
Dengan posisi ini saya bisa melihat vagina Silvi yang merah & latif. Kuusap sekali waktu vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket akan tetapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.
“Ahh Ren, lezat   Ren”, racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yg harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat saat kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat. “Terus Ren”, desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun berkecimpung meremas-remas payudaranya yg elastis. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun beranjak nir beraturan. Sepuluh mnt hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yg ke 2.
“Ahh Ren, saya keluar Ren”, aku  pun merasakan cairan hangat yang keluar menurut vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan pada mulutku & secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar beliau mencicipi cairannya sendiri. Lama kami berciuman, & perlahan posisi penisku sudah berada sempurna didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yg semula berada disamping berkecimpung ke arah penisku & menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.
“Besar pula punya kamu Ren, panjang lagi” Ucap Silvi pada sela-sela ciuman kami.
Sambil masih berciuman saya melepaskan CDku sebagai akibatnya tangan Silvi mampu leluasa mengocok penisku. Setelah 5 menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku menggunakan bibir vaginanya. Posisi ini lebih lezat   dibandingkan dikocok. Perlahan saya mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali namun nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Evi, atau mungkin lantaran lubang vaginanya belum terbiasa menggunakan penisku.
“Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali sayang” Racaunya ketika penisku beranjak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.
“Ahh..” desahnya semakin sebagai. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yg menjuntai ke bawah pun beranjak melingkari pinggangku. Akupun membarui posisiku sehingga seluruh badan kami terdapat di atas loka tidur.
Setelah seluruh badan ada diatas loka tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar  dan kenyalnya. Tanganku pun berkecimpung ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yg padat. Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi sang remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur menggunakan cepat & goyangan pinggul Silvi yg semakin liar.
“Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar  keras & panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren..” begitu racau Silvi pada sela kenikmatannya.
Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak menurut Evi adiknya. Lebih sempit sebagai akibatnya penisku sangat menikmati berada pada pada vaginanya. Goyangan Silvi yg makin liar, desahan yg nir beraturan membuatku semakin bernafsu & mempercepat gerakanku.
“Mbak aku  mau keluar Mbak” Kataku.
“Di dalam aja Ren biar   enak” desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah beliau nir mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.
“Ahh” Desahku saat saya memuntahkan seluruh cairanku kedalam lubang rahimnya.
Tangan Silvi menekan pantatku sembari pinggulnya mendorong keatas, seolah beliau masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya & penisku masih pada vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup usang. Badannya basah sang keringatnya dan juga keringatku.
“Kamu hebat Ren, aku  belum pernah sepuas ini sebelumnya” Kata Silvi.
“Mbak pula hebat, vagina Mbak sempit, legit & harum lagi.” Ucapku.
“Memang vagina Evi enggak” senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Evi” jawabku sembari menggerakkan penisku yg masih menancap pada dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.
“Penis engkau  masih keras Ren?” tanya Silvi sembari memutar pinggulnya.
“Masih, Mbak masih mau lagi?” tanyaku
“Mau akan tetapi Mbak diatas ya” Kata Silvi.
“Cabut dulu Ren”
https://goo.gl/eNkQDB
Setelah dicabut, ekspresi Silvi pun berkecimpung dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sembari memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan menggunakan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi ad interim waktu.
Hari itu semenjak pukul 5 sore sampai esok paginya aku  bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali menurut Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi nir terdapat kucumbu saja kakaknya dulu.
https://goo.gl/eNkQDB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Desain oleh cibai SAKONGKIU.com